..::WILUJEUNG SUMPING::..

Wednesday, 1 February 2012

Makalah Inquiri

BAB I
PENDAHULUAN

Upaya mencerdaskan bangsa dan mengembangkan kualitas manusia seutuhnya adalah misi pendidikan yang menjadi tanggung jawab professional setiap guru. Guru tidak cukup hanya menyampaikan materi pengetahuan kepada siswa di kelas tetapi dituntut untuk meningkatkan kemampuan guna mendapatkan dan mengelola informasi yang sesuai dengan kebutuhan profesinya. Mengajar bukan lagi usaha untuk menyampaikan ilmu pengetahuan, melainkan juga usaha menciptakan sistem lingkungan yang membelajarkan subjek didik agar sesuai dengan tujuan suatu strategi belajar mengajar. Mutu pengajaran tergantung pada pemilihan strategi yang tepat dalam upaya mengembangkan kreativitas seorang siswa.
Strategi erat kaitannya dengan metode dan pendekatan. Seorang guru atau dosen harus bisa memilih metode atau pendekatan mana yang dapat menciptakan suasana belajar yang mengasyikkan. Seorang pendidik tentu mempunyai metode atau pendekatan dan seorang guru yang baik akan memahami dengan baik metode atau pendekatan yang digunakannya sebab tidak ada satu pun metode dan pendekatan yang terbaik untuk semua mata pelajaran. Guru harus memahami bukan hanya bahan atau materi pelajaran akan tetapi juga masalah-masalah siswa, sebab melalui metode mengajar guru harus mampu memberi kemudahan belajar kepada siswa dalam proses belajar. Tidak ada satu pun metode pembelajaran yang dapat diklaim dan dikatakan yang terbaik. Semua berpulang kepada orang yang menjalankannya, yaitu guru yang secara langsung berhadapan dengan pembelajaran. Sebaik apa pun metode yang dipilih, tanpa dukungan guru yang memahami dan mampu menempatkannya dalam pembelajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi siswa, maka pembelajaran hanya berjalan seadanya, tanpa memberikan keberhasilan dan keefektifan.
Menurut Mukhtar dan Yamin (2005:3) metode pembelajaran yang lazim digunakan dalam hampir semua aktivitas pembelajaran yang interaktif dapat dikelompokkan ke dalam tiga hal. Pertama, metode pembelajaran berbagi informasi. Model ini dapat dikembangkan menjadi model kelompok orientasi, model sidang umum, model seminar, model konferensi kerja, model symposium, model forum, dan model panel. Kedua, model belajar melalui pengalaman. Model ini dapat dikembangkan menjadi model simulasi, model bermain peran, model sajian situasi, model kelompok aplikasi, model sindikat, dan model kelompok “T”. Ketiga, model pemecahan masalah. Model ini dapat dikembangkan menjadi model curah pendapat, model riuh bicara, model diskusi bebas, model kelompok okupasi, model kelompok silang, model tutorial, model studi kasus, dan model lokakarya. Beberapa model ini pada dasarnya merupakan pilihan yang dapat digunakan oleh guru dalam melakukan pembelajarannya.
Sebelum melakukan proses belajar mengajar, seorang guru harus menentukan metode yang akan digunakan agar tujuan pembelajaran yang telah disusun dapat tercapai. Menurut Rustaman, et al. (2005), beberapa metode yang sering digunakan dalam pembelajaran biologi adalah: metode ceramah, tanya jawab, diskusi, belajar kooperatif, demonstrasi, ekspositori atau pameran, karyawisata/widyawisata, penugasan, eksperimen dan bermain peran. Pemilihan dan penerapan suatu metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru hendaknya berdasarkan pertimbangan tujuan pembelajaran, karakteristik materi pembelajaran dan sarana pembelajaran. Dengan demikian seorang guru tidak menggunakan metode pembelajaran yang sama untuk semua konsep dalam membelajarkan siswanya, sehingga diharapkan pembelajaran tersebut dapat berhasil dan efektif.
Dalam pendidikan untuk mewujudkan pembelajaran yang berhasil dan efektif tidak mudah. Hal ini selain membutuhkan kesungguhan guru untuk mau mengembangkan metode-metode pembelajarannya sesuai dengan kriteria siswa yang dihadapi, juga dituntut adanya kreativitas dan kecerdasan guru yang tinggi untuk mengkreasikan sumber-sumber pembelajaran yang ada dan memanfaatkannya secara proporsional. Metode pembelajaran yang berhasil lebih menekankan pada keseimbangan antara kebutuhan si pembelajar dengan pemenuhan pembelajaran yang dilaksanakan guru. Pembelajaran yang berhasil lebih mengutamakan kekuatan pada siswa dan sumber yang dihadapi, juga memilih metode yang cocok dalam pembelajaran.
Salah satu langkah untuk mencapai suatu pembelajaran yang berhasil dan efektif adalah memperbaiki kurikulum ke arah yang lebih baik. Di Indonesia, berlakunya kurikulum 2004 Berbasis Kompetensi yang telah direvisi menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut perubahan paradigma dalam pendidikan dan pembelajaran, khususnya pada jenis dan jenjang pendidikan formal (persekolahan). Perubahan tersebut harus pula diikuti oleh guru yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan pembelajaran di sekolah (di dalam kelas ataupun di luar kelas). Secara garis besar perubahan kurikulum di Indonesia dilandasi oleh perubahan paradigma terhadap pembelajaran. Paradigma lama menganggap siswa adalah objek belajar, guru harus menuangkan pengetahuan kepada siswa seperti “mengisi air pada gelas kosong” dan memposisikan dirinya sebagai pusat informasi belajar (tabula rasa). Sedangkan paradigma baru menempatkan siswa sebagai subjek belajar, guru adalah sutradara yang harus piawai dalam menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa berinteraksi dengan lingkungan dalam bentuk proses empirik dan analitik, untuk membangun pengetahuannya sendiri (konstruktivisme).
Mengacu pada filsafat konstruktivisme, siswa merupakan pembelajar aktif yang mengkonstruksi sendiri pengetahuannya. Siswa diberi kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan obyek belajar, mengamati, mengembangkan pertanyaan, menghubungkan fakta dengan sumber pengetahuan, mengambil kesimpulan, dan mengkomunikasikan. Guru menjadi fasilitator agar pengalaman belajar di atas dapat berhasil dilaksanakan (Cartono dkk, 2007).
Pada hakikatnya IPA atau sains adalah suatu proses pembelajaran aktif yang dapat membangun kemampuan siswa untuk menyelidiki dan menemukan fakta-fakta tentang alam. Dengan demikian tidak tepat bila guru Sains hanya mengajarkan informasi tentang fakta-fakta dan konsep saja. Guru Sains sebaiknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh informasi tentang fakta-fakta melalui proses. Guru Sains dapat menyusun dan mengaplikasikan rancangan pelaksanaan pembelajaran berdasarkan sifat dari Sain tersebut sehingga siswa dapat membentuk konsep dalam pikirannya.
Pembelajaran Biologi sebagai salah satu bagian dari Sains memiliki empat tujuan yaitu mengajarkan fakta-fakta Biologi, mengembangkan kemampuan, mengajarkan keterampilan dan mendorong sikap yang nyata. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut dalam suatu pembelajaran diperlukan aplikasi pendekatan dan metode yang sudah tersusun dalam silabus dan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Kadang-kadang sebagian guru tidak mengaplikasikan pendekatan dan metode yang sudah tersusun dalam silabus dan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran, sehingga semua materi disampaikan kepada siswa dengan pendekatan dan metode yang sama, dengan demikian tujuan pembelajran biologi kemungkinan hanya satu yang tercapai yaitu siswa hanya memperoleh informasi (fakta) saja.
Salah satu pendekatan yang banyak dianjurkan dalam pembelajaran Biologi adalah pendekatan inkuiri. Inkuiri dalam bahasa Inggris berarti pertanyaan, atau pemeriksaan, penyelidikan. Pembelajaran inkuiri dideskripsikan dengan mengajak siswa dalam kegiatan yang akan membangun konsep-konsep sains sebagaimana para sainstis mempelajari sains. Henrichsen dan Jarrett (dalam Zulfiani, 2006) menyatakan bahwa inkuiri merupakan esensi kegiatan (proses) ilmiah (scientific enterprise) dan merupakan suatu strategi pengajaran dan pembelajaran sains.











BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Model Pembelajaran Inkuiri

A.1 Perkembangn Inkuiri
Inkuiri sudah berperan dalam pengajaran program sains di sekolah selama hampir satu abad (Bybee & DeBoer dalam Fadiawati, 2006). Sebelum tahun 1900 sebagian besar pendidik berpendapat bahwa sains sebagai pengetahuan diberikan kepada siswa melalui pengajaran langsung. Namun hal tersebut dikeluhkan John Dewey (1909) dari American Association for The Advacement of Science, yang menyatakan bahwa pengajaran sains terlalu banyak menekankan pada pemberian informasi. Dewey (1910) dalam Cartono (2007) menyatakan bahwa sains adalah proses atau metode untuk belajar. Dewey (1958) menggambarkan inkuiri sebagai hubungan dialektika antara “pelaku inkuiri dan inkuiri”.
Pada tahun 1950-an dan 1960-an, pemikiran bahwa inkuiri sebagai suatu pendekatan dalam pengajaran sains meningkat dengan pesat. Joseph Schwab (Fadiawati, 2006), menyatakan bahwa sains dapat dipandang sebagai struktur konsep yang berubah sebagai hasil fakta/bukti baru. Schwab menyarankan agar guru-guru menghadirkan sains sebagai inkuiri dan siswa menggunakan inkuiri untuk mempelajari materi sains.
Pembelajaran inkuiri banyak dipengaruhi oleh aliran belajar kognitif. Menurut aliran ini belajar pada hakikatnya adalah proses mental dan proses berpikir dengan memanfaatkan segala potensi yang dimiliki setiap individu secara optimal. Belajar lebih daripada hanya proses menghafal dan menumpuk ilmu pengetahuan, tetapi bagaimana pengetahuan yang diperolehnya bermakna untuk siswa melalui keterampilan berpikir.
Teori belajar lain yang mempengaruhi adalah teori belajar konstruktivistik yang dikembangkan oleh Piaget. Menurut Piaget (Dahar:1996), pengetahuan itu akan bermakna manakala dicari dan ditemukan sendiri oleh siswa. Sejak kecil, menurut Piaget, setiap individu berusaha dan mampu mengembangkan pengetahuannya sendiri melalui skema yang ada dalam struktur kognitifnya. Skema ini, secara terus menerus diperbaharui dan diubah melalui proses asimilasi dan akomodasi, tugas guru adalah mendorong siswa untuk mengembangkan skema yang terbentuk melalui proses asimilasi dan akomodasi.

A.2 Definisi Pembelajaran Berbasis Inkuiri
Model Pembelajaran Inkuiri merupakan suatu model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan cara berpikir yang bersifat penemuan yaitu menarik kesimpulan berdasarkan data-data teramati. Atas dasar ini model pembelajaran inkuiri menekankan pada pengalaman lapangan seperti mengamati gejala atau mencoba suatu proses kemudian megambil kesimpulan (Kartimi:2007)
Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Amien (1987:127), bahwa dalam proses inkuiri terkandung beberapa proses mental seperti merumuskan masalah, berhipotesis, merancang eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, menarik kesimpulan, mempunyai sikap-sikap objektif, jujur dan terbuka.
Menurut Schmidt (dalam Ibrahim, 2007) inkuiri adalah suatu proses untuk memperoleh dan mendapatkan informasi dengan melakukan observasi atau eksperimen untuk mencari jawaban atau memecahakan masalah terhadap pertanyaan atau rumusan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir kritis dan logis. Proses inkuiri mengandung tingkatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan penemuan (discovery). Misalnya memecahkan masalah, merancang dan melakukan percobaan, mengumpulkan dan menganalisis data, dan lainya.
Inkuiri merupakan salah satu cara agar siswa memperoleh pengalaman belajar dan pembelajarannya akan semakin bermakna dan bertahan lebih lama di dalam ingatan siswa. Hal ini dikarenakan siswa terlibat aktif di dalam memperoleh, mengembangkan, dan memahami pengetahuan atau ide-ide sains. Kegiatan pembelajaran yang mengarahkan siswanya berinkuiri seperti yang dilakukan para ilmuwan diungkapkan Dettrick (dalam Rustaman, et al., 2003) bahwa melakukan pembelajaran dengan berinkuiri berarti membelajarkan siswa untuk mengendalikan situasi yang dihadapi ketika berhubungan dengan dunia fisik, yaitu dengan menggunakan teknik yang digunakan oleh para ahli penelitian. Sedangkan menurut Suchman (dalam Krisnawati, 2005) menyatakan bahwa pembelajaran dengan inkuiri melatih siswa tentang suatu proses untuk menginvestigasi dan menjelaskan fenomena yang tidak biasa. Selanjutnya Suchman (Zulfiani, 2006), berpendapat tentang pentingnya membawa siswa kepada sikap bahwa semua pengetahuan bersifat tentative. Suchman mengembangkan suatu model penemuan baru yang menuntun siswa mengumpulkan data melalui bertanya.

Joyce (1992:199) bahwa teori Suchman dapat dijabarkan sebagai berikut :
a. Mengajak siswa seakan-akan berada dalam kondisi sebenarnya
b. Mengidentifikasi komponen-komponen yang berada di sekeliling kondisi tersebut
c. Merumuskan permasalahan dan membuat hipotesis pada kondisi tersebut
d. Memperoleh data dari kondisi tersebut dengan membuat pertanyaan dan jawaban “ya” atau “tidak”
e. Membuat kesimpulan dari data-data yang diperolehnya

B. Macam-Macam Pembelajaran Berbasis Inkuiri
Rustaman et al. (2003) membedakan model inkuiri menjadi inkuiri terbimbing {guided inqiry) dan inkuiri bebas atau terbuka {open-ended inquiry). Perbedaan antara keduanya terletak pada siapa yang mengajukan pertanyaan dan apa tujuan dari kegiatannya. Lain halnya dengan Willoughby (2005) dalam Juanengsih (2006) yang membedakan pembelajaran berbasis inkuiri menjadi tiga macam. yaitu: inkuiri terstruktur (structured inquiry), inkuiri terbimbing {guided inquiry), dan inkuiri yang diawali siswa {student-initiated inquiry).
definisi pembelajaran berbasis inkuiri mencakup beberapa pendekatan yang berbeda yaitu meliputi:
a. Inkuiri terstruktur (structured inquiry), guru mengemukakan masalah pada siswa untuk diselidiki, dan juga prosedur dan alat-alat yang digunakan, tetapi guru tidak memberi tahu hasilnya. Siswa menemukan hubungan diantara variabel-variabel atau generalisasi dari data yang telah terkumpul. Tipe penyelidikan ini mirip dengan apa yang disebut dengan buku masak, walaupun aktivitas terstruktur dengan apa yang diobservasi oleh siswa dan data yang mereka kumpulkan.
b. Inkuiri terpimpin (guided inquiry), guru hanya memberikan alat-alat dan masalah untuk diselidiki, siswa merencanakan sendiri prosedur untuk memecahkan masalah.
c. Inkuiri terbuka (open inquiry), pendekatan ini serupa dengan inkuiri terpimpin dengan tambahan siswa merumuskan masalah untuk diselidiki Inkuiri terbuka dalam beberapa hal, analog dengan pekerjaan sains.

Beberapa macam model pembelajaran inkuiri yang dikemukakan oleh Sund dan Trowbridge (1973) dalam Dahar (1996) diantaranya :
a. Guide Inquiry
Pembelajaran inkuiri terbimbing yaitu suatu model pembelajaran inkuiri yang dalam pelaksanaannya guru menyediakan bimbingan atau petunjuk cukup luas kepada siswa. Sebagian perencanaannya dibuat oleh guru , siswa tidak merumuskan problem atau masalah. Dalam pembelajaran inkuiri terbimbing guru tidak melepas begitu saja kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh siswa. Guru harus memberikan pengarahan dan bimbingan kepada siswa dalam melakukan kegiatan-kegiatan sehingga siswa yang berifikir lambat atau siswa yang mempunyai intelegensi rendah tetap mampu mengikuti kegiatan-kegiatan yang sedang dilaksanakan dan siswa mempunyai intelegensia tinggi tidak memonopoli kegiatan oleh sebab itu guru harus memiiki kemampuan mengelola kelas yang baik.
Inkuiri terbimbing biasanya digunakan terutama bagi siswa-siswa yang belum berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri.Pada tahap-tahap awal pengajaran diberikan bimbingan lebih banyak yaitu berupa pertanyaan-pertanyaan pengarah agar siswa mampu menemukan sendiri arah dan tindakan-tindakan yang harus dilakukan untuk memecahkan permasalahan yang disodorkan oleh guru. Pertanyaan-pertanyaan pengarah selain dikemukakan langsung oleh guru juga diberikan melalui pertanyaan yang dibuat dalam LKS. oleh sebab itu LKS dibuat khusus untuk membimbing siswa dalam melakukan percobaan dan menarik kesimpulan.
b. Modified Inquiry
Model pembelajaran inkuiri ini memiliki ciri yaitu guru hanya memberikan permasalahan tersebut melalui pengamatan, percobaan, atau prosedur penelitian untuk memperoleh jawaban. Disamping itu , guru merupakan nara sumber yang tugasnya hanya memberikan bantuan yang diperlukan untuk menghindari kegagalan dalam memecahkan masalah.
c. Free Inquiry
Pada model ini siswa harus mengidentifikasikan dan merumuskan macam problema yang dipelajari dan dipecahkan. Jenis model inkuiri ini lebih bebas daripada kedua jenis inkuiri sebelumnya.
d. Inquiry role Approach
Model pembelajaran inkuiri pendekatan peranan ini melibatkan siswa dalam tim-tim yang masing-masing terdiri atas empat orang untuk memecahkan masalah yang diberikan. Masing-masing anggota memegang peranan yang berbeda, yaitu sebagai koordinator tim, penasihat teknis, pencatat data, dan evaluator proses.
e. Invitation Into Inquiry
Model inkuiri jenis ini siswa dilibatkan dalam proses pemecahan masalah dengan cara-cara yang lain ditempuh para ilmuwan. Suatu undangan (invitation) memberikan suatu problema kepada para siswa dan melalui pertanyaan masalah yang telah direncanakan dengan hati-hati mengundang siswa untuk melakukan beberapa kegiatan atau kalau mungkin semua kegiatan berikut:a) Merancang eksperimen, b) Merumuskan Hipotesis , c) Menentukan sebab akibat, d) menginterpretasikan data, e) Membuat grafik, f) Menentukan peranan diskusi dan kesimpulan dalam merencanakan peneitian ,g) mengenal bagaimana kesalahan eksperimental mungkin dapat dikurangi atau diperkecil.
f. Pictorial Riddle
Pada model ini merupakan metode mengajar yang dapat mengembankan motivasi dan minat siswa dalam diskusi kelompok kecil atau besar , Gambar peragaan, atau situasi sesungguhnya dapat digunakan untuk mningkatkan cara berfikir kritis dan kreatif para siswa.Biasanya, suatu riddle berupa gambar dipapan tulis, poster, atau diproyeksikan dari suatu transparansi, kemudian guru mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan riddle itu.
g. Synectics Lesson
Pada jenis ini memusatkan keterlibatan siswa untuk membuat berbagai macam bentuk kiasan supaya dapat membuka intelegensinya dan mengembangkan kreativitasnya. Hal ini dapat dilaksanakan karena kiasan dapat membantu siswa dalam berfikir untuk memandang suatu problema sehingga dapat menunjang timbulnya ide-ide kreatif.
h. Value Clarification
Pada model pembelajaran inkuiri jenis ini siswa lebih difokuskan pada pemberian kejelasan tentang suatu tata aturan atau nilai-nilai pada suatu proses pembelajaran.

C. Strategi Pembelajaran Inkuiri
Strategi pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa. Strategi ini berangkat dari asumsi bahwa sejak manusia lahir ke dunia, manusia memiliki dorongan untuk menemukan sendiri pengetahuannya. Pengetahuan yang dimiliki manusia akan bermakna (meaningfull) manakala didasari oleh keingintahuan itu.
Ada tiga hal yang menjadi ciri utama strategi pembelajaran inkuiri ini (Sanjaya, 2006). Pertama, strategi inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya strategi inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi juga berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri. Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri. Dengan demikian, strategi pembelajaran inkuiri menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, akan tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa. Ketiga, tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental. Dengan demikian, dalam strategi pembelajaran inkuiri siswa tidak hanya dituntut agar menguasai materi pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang dimilikinya.
Menurut Suchman (Zulfiani, 2006), ada dua strategi pembelajaran inkuiri yaitu inkuiri deduktif dan inkuiri induktif. Suchman (Zulfiani, 2006) menyatakan bahwa kedua orientasi ini memiliki perbedaan pada proses penemuan konsep. Inkuiri deduktif menekankan aktifitas inkuiri setelah dosen memaparkan terlebih dahulu konsep atau prinsip, sementara penemuan konsep atau prinsip pada inkuiri induktif dilakukan oleh siswa setelah mereka melakukan aktivitas inkuiri

Strategi pembelajaran inkuiri akan efektif, jika memenuhi syarat-syarat sebagai berikut (Sanjaya, 2006):
1. Guru mengharapkan siswa dapat menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang ingin dipecahkan. Dengan demikian dalam strategi inkuiri penguasaan materi pelajaran bukan sebagai tujuan utama pembelajaran, akan tetapi yang lebih diutamakan adalah proses belajar.
2. Jika bahan pelajaran yang akan diajarkan tidak berbentuk fakta atau konsep yang sudah jadi, akan tetapi sebuah kesimpulan yang perlu pembuktian.
3. Jika proses pembelajaran berangkat dari rasa ingin tahu siswa terhadap sesuatu.
4. Jika jumlah siswa yang belajar tidak terlalu banyak sehingga bisa dikendalikan oleh guru.
5. Jika guru memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan pendekatan yang berpusat pada siswa.

Untuk menggunakan metode inkuiri, kelas harus reflektif, dengan tiga ciri-ciri yang esensial (Sanjaya, 2006), yaitu :
1. Pendekatan inkuiri dapat digunakan dalam kelas yang memiliki iklim terbuka dalam diskusi, karena para siswa dituntut untuk mengemukakan gagasannya tentang masalah tertentu tanpa dibatasi oleh apa pun seperti pandangan negatif atau bertentangan dengan kesimpulan umum.
2. Kelas harus menekankan pada jawaban yang bersifat sementara (hypothesis) karena itu diskusi kelas akan berorientasi di sekitar solusi-solusi yang bersifat hipotetik. Pengetahuan digambarkan sebagai hipotesis yang secara terus menerus diuji dan diuji kembali. Siswa dan guru mengumpulkan data dari sumber yang berbeda, melakukan analisis, merevisi pengetahuan mereka dan mencoba kembali.

3. Kelas yang reflektif menggunakan fakta-fakta sebagai bukti. Kelas dianggap sebagai tempat membentuk dan tempat berlatih untuk melakukan inkuiri ilmiah. Validasi fakta-fakta dalam menggunakan metode ini memperoleh tempat yang penting.

D. Karakteristik Inkuiri
Henrichsen & Jarrett (Zulfiani, 2006) menyatakan empat karakteristik inkuiri, yaitu: (1) Koneksi, (2) Desain, (3) Investigasi, (4) Membangun Pengetahuan. Berikut perbandingan uraian singkat masing-masing karakteristik inkuiri dalam bentuk matriks (Tabel 1).


Koneksi Desain Investigasi Membangun Pengetahuan
• Proses koneksi melalui: konsiliasi, pertanyaan, dan observasi
• Mahasiswa mampu menghubungkan pengetahuan sains pribadi dengan konsep komu-nitas sains
• Dilakukan dengan diskusi bersama, eksplorasi, fenomena.
• Dosen mendorong untuk mendiskusikan dan menjelaskan pemahaman mereka tentang bagaimana suatu fenomena bekerja, menggunakan contoh dari pengalaman pribadi menemukan hubungan dengan literatur. • Proses desain melalui prosedur materi.
• Mahasiswa membuat perencanaan pengumpulan data yang bermakna yang ditujukan pada pertanyaan. Disini terjadi integrasi konsep sains dengan proses sains.
• Mahasiswa berperan aktif mendiskusikan prosedur, persiapan materi, menentukan variabel kontrol dan pengukuran.
• Dosen memantau ketepatan aktivitas mahasiswa. • Proses melalui koleksi dan mempresentasikan data.
• Mahasiswa dapat membaca data secara akurat, mengorganisasi data dalam cara yang logis dan bermakna, dan memperjelas hasil penyelidikan. • Proses melalui refleksi-kontruksi-prediksi.
• Konsep yang dilakukan dengan eksperimen akan memberi arti yang lebih bermakna dan mampu berpikir kritis. Ia harus menghubungkan antara interpretasi ilmiah yang diterima.
• Mahasiswa dapat mengaplikasikan pemahamannya pada situasi baru yang mengembangkan inferensi, generalisasi, dan prediksi.
• Dosen bertukar pendapat (sharing) terhadap pemahaman mahasiswa.

F. Pembelajaran Biologi Berbasis Inkuiri
Pembelajaran berbasis inkuiri adalah proses yang melibatkan siswa dalam pembelajaran dengan cara merumuskan pertanyaan, menyelidiki secara luas dan kemudian membentuk pengertian baru, pemahaman dan pengetahuan. Belajar IPA khususnya biologi bukan hanya sebagai penguasaan konsep-konsep, fakta-fakta atau prinsip-prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu proses inkuiri.
Dalam NRC (1996) pembelajaran sains yang berorientasi inkuiri akan bersifat aktif melibatkan siswa, belajar secara "hands-on" dan eksperimen, belajar berdasarkan aktivitas, menggabungkan inkuiri dengan pendekatan diskoveri, mengembangkan keterampilan proses melalui metode ilmiah. Menurut Haury (dalam Anggraeni, 2006) jika dilihat dari pandangan ilmu, pembelajaran sains berbasis inkuiri akan mengikutsertakan siswa dalam menggali atau me-nemukan ilmu, melibatkan aktivitas dan keterampilan, tetapi fokusnya adalah mencari pengetahuan secara aktif atau memahami untuk memuaskan keingintahuannya.
Pembelajaran berbasis inkuiri meliputi kegiatan observasi, mengajukan pertanyaan, memeriksa buku-buku dan sumber-sumber lain untuk melihat informasi yang ada, merencanakan penyelidikan, merangkum apa yang sudah diketahui dalam bukti eksperimen, menggunakan alat untuk mengumpulkan, menganalisis dan interpretasi data, mengajukan jawaban, penjelasan, prediksi, serta mengkomunikasikan hasil (NRC, 1996)
Menurut Haury (Anggraeni, 2006) pengajaran sains berorientasi inkuiri di sekolah menengah pada umumnya dapat meningkatkan kinerja siswa dalam keterampilan laboratorium, keterampilan membuat grafik dan menginterpretasikan data. Selain itu efektif dalam membantu perkembangan literasi sains, pemahaman proses sains, pengetahuan terminologi dan pemahaman konseptual, berpikir kritis, sikap positip terhadap sains, hasil belajar tertinggi dalam tes pengetahuan prosedural, dan membangun pengetahuan logika matematis. Trowbridge (Cartono, 2007) menambahkan bahwa pendekatan inkuiri akan menyebabkan beberapa hal. Pertama, pembelajaran menjadi student centered, terbangunnya konsep diri yang positif dari siswa, peningkatan tingkat pengharapan, dan pengembangan bakat. Kedua, terhindarnya belajar pada tingkat verbal, memungkinkan siswa secara mental untuk mengambil dan mengakomodasi informasi (Anggraeni, 2006).
Joyce et al. (Zulfiani, 2006) mengembangkan suatu model belajar yang dikenal dengan istilah Biological Science Inquiry Model. Model tersebut memiliki empat fase kegiatan pembelajaran, yaitu: (1) memfokuskan area penyelidikan (Post area of investigation). Pada fase pertama ini area penyelidikan dikemukakan pada mahasiswa termasuk metode yang digunakannya. (2) mahasiswa memfokuskan masalah (Student structure the problem). Pada fase kedua, masalah dirumuskan agar mahasiswa mengidentifikasi kesulitan penyelidikan yang bisa berupa interpretasi data, pemerolehan data, kontrol eksperimen dan membuat inferensi. (3) mahasiswa mengidentifikasi masalah dalam penyelidikan (Student identify the problem in the Investigation). Pada fase ketiga ini mahasiswa diminta untuk menerka masalah sehingga mereka dapat mengidentifikasi kesulitan inkuiri.(4) mahasiswa memperjelas hasil penyelidikan (Student spe-culate on ways to clear up the difficulty). Pada fase keempat ini mahasiswa kemudian diminta mengemukakan cara-cara menjelaskan kesulitan dengan merancang eksperimen, mengorganisasi dan dengan berbagai cara, mengembangkan konstruksi.
Urutan kegiatan yang dilakukan adalah merencanakan, mendiskusikan, menghipotesiskan, menganalisis, dan menafsirkan sekelompok data yang terkumpul dari hasil pengamatan anggota kelompok dalam upaya mendapatkan konsep umum mengenai topik yang dipermasalahkan. Jadi disusun teori-teori atau pengertian untuk diuji melalui eksperimen dan/atau melalui analisis data sebagai hasil observasi. Pendekatan ini dimaksudkan untuk mengembangkan sifat ingin tahu dan imajinasi siswa serta kemampuan mereka mengungkapkan pemikirannya, untuk menyelidiki dan memahami sendiri. Siswa harus diberi motivasi untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan atau cara-cara baru untuk menghadapi kerumitan bila dalam memecahkan permasalahan tidak ditemukan apa yang diharapkan.
Satu pendekatan yang direncanakan untuk satu pembelajaran mungkin dalam pelaksanaan proses tersebut menggunakan beberapa metode. Pada hakekatnya tidak pernah terjadi satu materi pelajaran diajarkan dengan menggunakan hanya satu metode. Pembelajaran dengan menggunakan banyak metode akan menunjang pencapaian tujuan pembelajaran yang lebih bermakna (Rustaman et al., 2003). Demikian halnya pembelajaran inkuiri dalam pelaksanaannya menggunakan berbagai metode. Beberapa metode yang sering digunakan dalam pembelajaran inkuiri adalah: (1) Metode tanya jawab; (2) Metode diskusi; (3) Metode belajar kooperatif; (4) Metode penugasan; dan (5) Metode eksperimen yang dalam pelaksanaannya dilakukan kegiatan hands-on.

G. Langkah-langkah Pendekatan Inkuiri Dalam pembelajaran Biologi
Langkah langkah dalam pendekatan inkuiri dapat disajikan melalui berbagai cara, yaitu "penemuan melalui inkuiri" dan "ajakan untuk berinkuiri".
1. Penemuan Melalui Inkuiri
Penemuan melalui inkuari ini dicetuskan oleh Richard Suchman. Teknik ini menggunakan berbagai macam sistem penyampaian seperti film, slide atau cerita naratif didukung oleh foto-foto atau demonstrasi suatu gejala untuk mengemukakan masalah sebab akibat. Dalam hal ini inkuari dilaksanakan tanpa adanya kegiatan siswa melakukan eksperimen atau menggunakan peralatan. Siswa mengumpulkan data mengenai permasalahannya dengan cara mengemukakan pertanyaan. Biasanya hanya pertanyaan-pertanyaan untuk mencari data melalui bentuk jawaban "ya" atau "tidak" saja yang digunakan. Rasional dibalik kegiatan perlunya siswa membuat pertanyaan dan bukannya guru bertanya adalah bahwa bila siswa mengamati atau mengeksplorasi, guru tidak tahu kegiatan kognitif apa yang terjadi dalam alam pikiran siswa. Akan tetapi apabila siswa menyatakan apa yang ada dalam pikiran mereka dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan, guru akan mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai bagaimana mereka berpikir. Pertanyaan siswa yang hanya dapat dijawab dengan ya atau tidak oleh guru untuk menghindari pertanyaan yang terstruktur yang membutuhkan jawaban tertentu. Untuk dapat menyusun pertanyaan yang hanya dapat dijawab ya atau tidak menuntut siswa untuk berpikir kritis.
Dengan banyak latihan ternyata siswa menjadi penyelidik yang mahir. Pada mulanya pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan masih sangat umum, namun lama kelamaan pertanyaan berkembang menjadi sangat menjurus dan spesifik. Inkuari ini bukan metode yang dapat digunakan untuk mengembangkan keteram¬pilan kognitif dasar yang memungkinkan siswa menemukan faktor-faktor yang menyebabkan perubahan yang diamati.
2. Ajakan untuk Berinkuari
Suatu teknik lain dalam pendekatan inkuari adalah ajakan untuk berinkuari. Teknik ini bermaksud menjadikan siswa penyelidik-penyelidik yang mahir. Teknik ini menekankan pada bagaimana data diperoleh dan diubah menjadi pengetahuan. Dalam hal ini belajar tentang biologi dan lingkungan hidup bukan hanya untuk mengetahui dari orang lain apa yang telah diketahui. Tetapi pengetahuan lingkungan diperoleh melalui berbagai cara. Salah satunya adalah dengan cara menyajikan suatu masalah dan melakukan eksperimen untuk memecahkannya. Data yang terkumpul dari eskperimen ini diberi penjelasan, dianalisis dan diinterpretasikan siswa. Cara lain ialah memberikan kepada siswa sekumpulan data lalu menugaskan mereka menginterpretasinya atau mendapat kesimpulan dari data tersebut.
Pengajaran dengan menggunakan inkuari juga dapat berlangsung bila dikemukakan situasi permasalahan dan siswa diajak untuk mengembangkan hipotesis dari hasil pengamatan mereka mengenai permasalahan itu. Hipotesis yang disusun dapat diuji melalui kegiatan latihan ajakan mengadakan inkuari berikutnya.
Urutan pembelajaran berbasis inkuiri yang diajukan NRC (Anggraeni, 2006), langkah¬-langkahnya sebagai berikut:
a. Tahap undangan berinkuiri (invitation phase)
Merupakan tahap awal pada semua tingkatan inkuiri . Tahap ini memberi siswa kesempatan untuk mengalami suatu fenomena atau hal baru yang menantang atau berbeda dengan pandangan atau asumsi tertentu. Fenomena atau hal baru tersebut dirancang untuk merangsang dan memotivasi rasa ingin tahu siswa melalui metode questioning.
Pertanyaan yang mungkin diajukan guru adalah:
1) Apakah kamu pernah melihat ...?
2) Apakah kamu menyadari bahwa ...?
3) Apa yang kamu amati ...?
Keterlibatan siswa yang diamati pada tahap pertama adalah:
1) Siswa termotivasi dan memberi respon positif terhadap masalah yang dikemukakan
2) Siswa mengungkapkan ide awalnya
b. Tahap Menggali Pemahaman Siswa (exploration phase)
Dalam tahap ini, siswa mengumpulkan informasi, mengidentifikasi dan merumuskan hipotesis terhadap peristiwa yang mereka lihat atau alami, yang dibantu dengan pertanyaan-pertanyaan pengarah dari guru. Pertanyaan-pertanyaan dieliminasi dan dipersempit ke arah pertanyaan-pertanyaan yang dapat menjawab eksperimen atau penelitian.
Pertanyaan yang mungkin diajukan guru adalah:
1) Apa yang terjadi ketika ... ?
2) Apa yang kamu ... ?
3) Apa yang sebaiknya kita lakukan untuk menemukan ...?
4) Apa pertanyaan yang kamu ajukan ?
Keterlibatan siswa yang diamati pada tahap kedua adalah:
1) Siswa melakukan pengamatan terhadap masalah yang diberikan oleh guru
2) Siswa merumuskan masalah
3) Siswa mengidentifikasi masalah
4) Siswa membuat hipotesis
c. Tahap melaksanakan percobaan/investigasi (experiment phase)
Tahap ini merupakan tahap dimana siswa berkelompok dan melaksanakan ekserimen untuk menguji hipotesis. Siswa mengumpulkan data dan informasi.
Pertanyaan yang mungkin diajukan guru adalah:
1) Apa yang kamu temukan mengenai ... ?
2) Mengapa hal tersebut sama atau berbeda dari ... ?
3) Apa yang kamu ketehui mengenai karakteristik dari ... ?
Keterlibatan siswa yang diamati pada tahap kedua adalah :
1) Siswa melakukan eksperimen
2) Siswa melakukan kerjasama dalam mengumpulkan data
d. Tahap menyajikan hasil percobaan (presentation phase)
Pada tahap ini, guru mengajak siswa melakukan analisis dan diskusi terhadap hasil-hasil yang diperoleh sehingga siswa mendapatkan konsep dan teori yang benar sesuai konsep ilmiah serta terhindar dari miskonsepsi. Siswa secara berkelompok atau individual mencatat informasi hasil eksperimen dan menyusunnya dalam bentuk laporan sementara hasil percobaan. Masing-masing kelompok mempresentasikan temuannya. Kelompok yang melakukan presentasi akan berbagi data dengan kelompok lain dan memberi kesempatan untuk tanya jawab mengenai langkah kerja, data, informasi-informasi apa saja yang diperlukan berkaitan dengan konsep atau teori yang telah mereka dapatkan pada tahap sebelumnya, dan lain-lain.
Pertanyaan yang mungkin diajukan guru adalah:
1) Dapatkah kamu menjelaskan mengapa ... ?
2) Faktor apa saja yang berperan dalam ... ?
3) Dapatkan kamu menemukan cara untuk ... ?
4) Bagaimana kamu memecahkan masalah untuk ... ?
Keterlibatan siswa yang diamati pada tahap kedua adalah :
1) Siswa melakukan diskusi
2) Siswa menyimpulkan hasil eksperimen
3) Siswa mengumpulkan dan mencatat informasi yang diperoleh
4) Siswa aktif bertanya

F. Peran Guru
Pembelajaran inkuiri Suchman, peran guru memonitor pertanyaan siswa untuk mencegah agar proses inkuiri, tidak sama dengan permainan tebakan.Hal ni memerlukan dua aturan penting, yaitu:
1. Pertanyaan harus dijawab ”ya” atau ”tidak”dan harus diucapkan dengan suatu cara siswa dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan melakukan pengamatan.
2. Pertanyaan harus disusun sedemikian rupa sehingga tidak mengakibatkan guru memberikan jawaban pertanyaan tersebut,tetapi mengarahkan siswa untuk menemukan jawabannya sendiri.

E. Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Berbasis Inkuiri
1. Kelebihan pembelajaran berbasis inkuiri
Beberapa kelebihan pembelajaran berbasis inkuiri sebagaimana dikemukakan oleh Sudirman (1991:169-171) adalah :
a. Strategi pengajaran menjadi berubah dari yang bersifat penyajian informasi oleh guru kepada siswa, menjadi pengajaran yang menekankan kepada proses pengolahan informasi, dimana siswa aktif mencari dan mengolah sendiri informasi dengan kadar proses mental yang lebih tinggi atau lebih banyak.
b. Pengajaran berubah dari teacher-centered menjadi student-centered. Guru tidak lagi mendominasi seluruhnya kegiatan belajar mengajar siswa, tetapi lebih banyak bersifat membimbing, dan memberi kebebasan belajar kepada siswa.
c. Membantu dalam menggali ingatan untuk diterapkan dalam situasi proses belajar yang baru.
d. Dapat membentuk dan mengembangkan self-concept pada diri siswa, sehingga secara psikologis siswa akan merasa aman, terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru, berkeinginan untuk selalu mengambil dan megeksplorasi kesempatan yang ada, dan lebih kreatif.
e. Penelitian dapat dilakukan dalam satu periode pertemuan. Waktu yang singkat ini menunjukkan bahwa siswa dapat mengalami langkah-langkah inkuiri dengan cepat dan dengan pelatihan mereka akan lebih terampil dalam melakukan inkuiri.

2 Kekurangan pembelajaran berbasis inkuiri
Menurut Gilstrasp dan Martin (1975:68) menyebutkan beberapa kekuarangan pembelajaran berbasis inkuiri sebagai berikut:
a. Strategi ini mengandalkan suatu kesiapan berfikir tertentu, sebagai contoh siswa yang berfikir lambat bisa bingung dalam memberi kesimpulan pada kegiatan pembelajaran sedangkan siswa yang memiliki kemampuan berfikir tinggi bisa memonopoli kegiatan pembelajaran.
b. Tidak efisien untuk kelas dengan jumlah siswa besar
c. Harapan dalam metode ini dapat terganggu oleh siswa-siswa dan guru-guru yang telah terbiasa dengan pengajaran konvensional.
d. Dalam beberapa bidang ilmu, fasilitas yang dibutuhkan untuk menguji ide-ide tertentu tidak tersedia.

DAFTAR PUSTAKA

Anggraeni, S. (2007). Program Developed of General Biology Inquiry Based Course for Preservice Biology Teachers. Proceeding of The First International Seminar on Science Education. Science Education Facing Against the Challenges of the 21 Century, 231-241.

Amin, M. (1987). Mengajarkan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Dengan Menggunakan Metode “Discovery” dan “Inquiry”. Jakarta: Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Depdikbud.

Colburn, A. (2004). An Inquiry Primer, http://inkido.indiana.edu/mikeb/ActionResearchClass/assignments/sample_action_project.pdf

Dahar, R. W. (1996). Teori-Teori Belajar. Jakarta: Erlangga.

Galileo Educational Network. (2004). What is Inquiry ? Inquiry & ICT. Retrieved July 12, 2004, from http://www.galileo.org/inquiry-what.html

Mukhtar dan Martinis. (2002). Sepuluh Kiat Sukses Mengajar Di Kelas. Jakarta: PT Rakasta Samasta.

Rustaman, et.al. (2003). Strategi Belajar Mengajar. Jurusan Pendidikan Biologi. FPMIPA UPI Bandung : Tidak diterbitkan.

Sudirman, dkk. (1992) Ilmu Pendidikan, Bandung: PT. Remaja.

Sund & Trowbridge. (1973). Teaching Science by Inquiry in the Secondary School. Columbus: Charles E. Merill Publishing Company.

The Youth Learning. (2001). Key Principle of Inquiry Based-Learning. Retrieved December 12, 2005, form http://youth.learn/howtocreate inquiry.htm
The Youth Learning. (2001). Key Principle of Inquiry Based-Learning. Retrieved December 12, 2005, form http://youth.learn/howtocreate inquiry.htm


INQUIRY

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Pengajaran Biologi Sekolah Lanjutan












OLEH :
Inna Tresnagalih, S.Pd ( 0907787 )
Dedi Mulyadi, S.Pd ( 0907889 )






PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA
KONSENTRASI PENDIDIKAN BIOLOGI SL
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2010

No comments: