BAB I
PENDAHULUAN
A. Latarbelakang Masalah
Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi sumber daya manusia (SDM) melalui kegiatan pngajaran. Kegiatan pengajaran tersebut diselenggarakan pada semua satuan dan jenjang pendidikan yang meliputi wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Pengajaran sebagai aktivitas operasional kependidikan dilaksanakan oleh tenaga penidik yang tentang Pendidikan Nasional, tenaga pendidik yang tugas utamanya itu adalah guru untuk jenjang pedidikan dasar dan menengah; dosen untuk pendidikan tinggi.
Untuk melaksanakan profesinya, tenaga pendidik khususnya guru sangat memerlukan aneka ragam pengetahuan dan keterampilan keguruan yang memadai dalam arti sesuai dengan tuntutan zaman dan kemajuan sains dan teknologi. Diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai oleh guru dan calon guru adalah pengaetahuan psikologi terapan dengan pendekatan baru yang erat kaitannya dengan proses belajar dan mengajar dalam suasana zaman yang berbeda dan penuh tantangan seperti sekarang ini.
Adapu pengrtian psikologi secara umum adalah disiplin ilmu yang membahas prilaku manusia, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok dalam hubungannya dengan lungkungan.
Berdasarkan peryataan-pernyataan diatas, penulis tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang psikologi dan pendidikan yang akan dituangkan dalam makalah yang berjudul “LANDASAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN”.
B. Perumusan Masalah
Dari latar belakang masalah tersebut di atas ditemukan masalah pokok yang akan di kaji yaitu Landasan Psikologi Pendidikan. Untuk mempermudah dalam penysunan makalah ini Penulis akan merumuskan pokok-pokok masalah yang akan dibahas debagai berikut:
1. Apa pengertian psikologi dan psikologi pendidikan?.
2. Apa macam-macam psikologi pendidikan ?.
3. Bagaimana dampak landasan psikologi bagi pendidikan?
C. Tujuan
Tujuannya untuk mencri data atau teori-teori tentang landasan psikologi pedidikan dari para ahli piker di bidangnya masing-masing. Secara rinci tujuan dari penyusunan makalah ini penulis ingin mengetahui mengenai:
1. Pengertian psikologi dan psikologi pendidikan.
2. macam-macam psikologi.
3. dampak landasan psikolog bagi pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Psikologi dan Psikologi Pendidikan
1. Psikologi
Psikologi yang dalam bahasa lama disebut ilmu jiwa berasal dari kata bahasa Inggris psychology. Kata psychology merupakan dua akar kata yang bersumber dari bahasa Greek (Yunani), yaitu:1) Psyche yang berarti jiwa; 2) logos yang berarti ilmu. Jadi, secara harfiah psikologi memang berarti ilmu jiwa. (Muhibbin Syah, 2000: 7)
Psikologi adalah ilmu yang mempelajaru jiwa manusia. Jiwa itu sendiri adalah ruh atau sukma dalam keadaan mengendalikan jasmani, yang dpapat dipengaruhi oleh alam sekitar. Karena itu, jiwa atau psikis dapat dikaitkan dengan inti pengendalian kehidupan manusia yang berbeda dan melekat dalam manusia itu sendiri (Tatang S dan Nur’aini, 2006: 1-2)
2. Psikologi Pendidikan
Psikologi pendidikan adalah sebuah sub disiplin ilmu psikologi yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan yang berguana dalam hal-hal sebagai berikut.
1. Penerapan prinsip-pronsip belajar dalam kelas.
2. Pengembangan dan pembaruan kurikulum.
3. Ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan.
4. Sosialisasi proses-proses dan interaksi proses-proses tersebut dengan pendayagunaan ranah kognitif.
5. Penyelenggaraan pendidikan keguruan.
Secara sederhana dan praktis, Browl (1985) mendefinisikan psikoligi pendidikan sebagai … a body of knowlwdge grounded in psychological research wich provides a repertoire of resourcese to aid you in functioning more effectively I teaching learning process. Psikologi pendidkan adalah pengetahuan berdasarkan reset psikologi yang menyediakan serangkain sumber-sumber untuk membantu anda melaksanakan tugas sebagai seorang guru dalam proses belajar mengajar secar lebih efektif.
Landasan psikologis merupakan dasar-dasar pemahaman dan pengkajian sesuatu dari sudut karakteristik dan prilaku manusia, khususnya manusia sebagai individu.
B. Macam-macam Psikologi
1. Psikologi Perkembangan
1.1. Pengertian Psikologi Perkembangan
Istilah perkembangan (development) adalah suatu proses perubahan sifat-sifat psikologis. Sebagaimana menurut Muhibbin Syah (2001: 41) bahwa perkenbangan adalah suatu tahapan pertumbuhan kearah yang lebih maju, sedangkan pertumbuhan (gowth) adalah tahapan peningkatan sesuatu dalam hal jumlah, ukuran, dan arti pentingnya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991), perkembangan adalah berasal dari kata berkembang. Sedangkan berkembang adalah mekar terbuka atau membentang; menjadi besar, luas, dan banyak serta menjadi bertambah sempurna dalam hal kepribadian, pikiran, pengetahuan, dan sebagainya.
1.2. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan
a. Aliran Nativisme
Nativisme (nativism) adalah sebuah doktrin filosofis yang berpengaruh besar terhadapan aliran pemikiran psikologi. Tokoh utama aliran ini bernama Arthur Schopenhauer (1788-1860) seorang filosof Jerman. Aliran ini flsafat natavisme konon dijuluki aliran pesimistis yang memandang sesuatu dengan kacamata hitam.
b. Aliran Empirisme
Aliran ini dipelopori oleh John Locke (1632-1704). Aliran ini disebut juga aliran enviromantalisme (aliran lingkungan) atau dal;am perspektif psikologi disebut aliran environmental pshycology.
Doktrin ini menekankan akan pentingnya pengalaman (experience), lingkungan (behaviour), dan pendidikan (education). Artinya bahwa perkembangan manusia itu semata-mata bergantung pada lingkungan, pengalaman, dan pendidikannya, sedangkan bakat dan pembawaan sejak lahir dianggap tidak ada pengaruhnya.
c. Aliran Kovergensi
Aliran ini merupakan gabungan dari aliran empirisme dan natavisme. artinya bahwa heraditas (pembawaan) dengan lingkungan sebagai faktor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusiaTokoh utama aliran ini William Stren (1871-1938)
Aliran ini beranggapan bahwa perkembangan manusia tidak hanya dipengaruhi olenh lingkungan (pengalaman), juga pengaruhi oleh pembawaan (genetika). Faktor pembawaan tidak akan berpengaruh apa-apa, jika tidak adanya faktor pengalaman. Dan begitupun sebaliknya.
1.3. Hikmah Mempelajari Psikologi Perkembangan.
a. Untuk memahami garis besar, pola umum perkembangan dan pertumbuhan anak pada tiap fasenya.
b. Dapat memunculkan sikap senang bergaul dengan orang lain, terutama anak-anak remaja dengan penuh perhatian kepada mereka baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
c. Dapat mengarahkan seseorang untuk berbuat dan berprilaku yang selaras dengan tingkat perkembangan orang lain, dan
d. Khususnya bagi pendidikan dapat memahami dan memberikan bimbingan kepada anak, sesuai dengan taraf perkembangan anak didiknya, sehingga proses pendidikan akan berjalan akan berjalan dengan sukses dalam pencapaian tujuan.
2. Psikologi Belajar
Sebagian orang beranggapan bahwa belajar adalah semata-mata mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi/ materi pelajaran. Orang yang beranggapan demikian biasanya akan segera merasa bangga ketika anak-anaknya telah mampu meyebutkan kembali secara lisan (verbal) sebagian besar informasi yang terdapat dalam buku teks atau yang diajarkan oleh guru.
Disamping itu, adapula sebagian orang yang memandang belajar sebagai latihan belaka seperti yang tampak pada latihan membaca dan menulis. Berdasarkan prestasi semacam ini biasanya mereka akan merasa cukup puas bila anak-anak mereka telah mampu memperhatikan keterampilan jasmaniah tertentu walaupun tanpa pengetahuan mengenai arti, hakikat, dan tujuan keterampilan tersebut.
1. Dasar (Hakikat) Belajar
Manusia, pada hakikatnya adalah belajar. Proses belajar tersebut sudah dimulai sejak manusia ada di dunia ini. Ia lahir tanpa memiliki pengetahuan, sikap, dan kecakapan apapun; kemudian tumbuh dan berkembang menjadi mengetahui, mengenal, dan mengusai banyak hal. Itu terjadi karena proses belajar dengan menggunakan potensi dan kapasitas diri yang telah dianugrahkan Allah kepadanya. Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S al-Nahl: 78:
•
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.
Maka dari itu, seorang mukmin harus mampu mensyukuri anugerah itu dengan memfungsikan potensi dan kapasitasnya untuk selalu belajar. Karenanya, orang mukmin tidak akan melakukan dua kali kekeliruan dalam situasi yang serupa. Sebagai mana Nabi Saw. Bersabda:
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a Dari Nabi Saw. Bahwa beliau bersabda, “tidaklah spantasnya orang mukmin terjerumus kedalam suatu lubang dua kali”.
Orang yang tidak mau belajar dan tidak memanfaatkan potensi dan kapasitasnya berarti orang tersebut telah menjauhi hakikatnya sebagai manusia. Derajat orang seperti itu digambarkan oleh Allah lebih rendah dibandingkan dengan binatang (bal hum adhol). Hal ini sesuai dengan firman-Nya dalam Q.S. A’raf: 179
•
"Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai".
Jadi,dapat disimpukan bahwa proses belajar itu adalah salah satu proses memperlihatrkan eksistensi dan jati diri seseorang (baca: manusia) dalam upaya untuk mencapai kesempurnaan hidup, baik di dunia maupun diakhirat kelak.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Belajar
a. Faktor Luar (Eksternal) Siswa
Faktor-faktor yang berada di luar (eksternal) siswa yang mempengaruhi akan proses keberhsilan dalam belajar, sebagai berikut: 1) Bahan pelajaran; 2) Guru dan metode mengajar; 3) Media pendidkan; 4) Situasi lingkungan, baik lingkungan keluarga, disekolah maupun lingkungan masyarakat.
b. Faktor-faktor Dalam (Internal) Siswa
Faktor internal siswa adalahsemua faktor yang ada dalam diri siswa. Karena itu pada garis besarnya meliputi faktor fisik (Jasmaniah) dan faktor-faktor fsikis (mental).
Pertama, faktor-faktor fisik (jasmaniah). Faktor-faktor fisik berkaitan dengan kesehatan badandan akemampuannya, yaitu tidak mengalami cacat atau kekurangan, yang dapat menjadi hambatan dalam meraih sukses. Diantaranya kesehatan badan dan kesempurnaan badan.
Kudua, faktor-faktor fsikis (mental). Diantaranya: motovasi, berfikir (daya ingat dan daya konsentrasi), intelegensi (tingkat kecerdasan), sikap (attitude), perasaan dan emosi, kematangan pertumbuhan, dan kemauan dan bakat (aptitude).
Para ahli psikologi pendidikan atau ahli psikologi bekajar berpendapat bahwa psikologi pendidikkan adalah psikologi yang diterpkn dalam belajar atau pendidikan.
3. Psikologi Sosial
Psikologi social adalah psikologi yang secrara khusus membicarakan tentang tingkah laku tau aktivitas-aktivitas manusia dalam hubungan dengan situasi sosial.
Pendapat lain mengatakan psikologi sosial adalah psikologi yang mempelajari psikologi seseorang di masyarakat yang mengkombinasikan ciri-ciri psikologi dengan ilmu sosial untuk mempelajari pengaruh masyarakat terhadap individu dan antar individu.
Motivasi juga merupakan salah satu aspek psikologi sosial karena tanpa adanya motivasi tertentu seseorang akan merasa kesulitan untuk berpartisipasi di masyarakat. Menurut Klinger ada beberapa yng menentukan motivasi, diantarnya:
1. Minat dan kebutuhan individu. Apabila minat dan kebutuhan jasmani, ruhani, dan sosial anak-anak dipenuhi maka motivasi belajarnya akan muncul. Dengan catatan minat dan kebutuhannya yang mendukung kepada hal-hal yang berhubungan dan menjang dengan proses belajar. Sebab kalau anak teralau dikabulkan dengan apa yang dia inginkan, dikhawatirkan anak tersebut akan menjadi orang yang manja dan terlalu ketergantungan sama orang lain (baca: orang tuanya). Sehingga ia akan menjadi orang yang pasif, karena selalu menunggu sesuatu dari orang lain.
2. Persepsi kesulitan akan tugas-tugas, dengan persepsi yang bersifat mudah dan gampang. Jika anak-anak memandang kesulitan pelajaran itu tidak terlalu berat, melainkan cukup menantang, maka motivasi belajarpun akan muncul. Tapi sebaliknya, jika persepsi sesuatu, sejak awal sudah dianggap susah atau berat, maka motivasi belajarpun akan akan mendorong nahkan menurun.
3. Harapan sukses. Berikan dan tanamkanlah pada anak-anak tentang keberhasilan dan kesuksesan. Sebab siapapun orangnya, akan sangat ingin dipastikan menjadi orang yang sukses dan berhasil. Alhasil, jika orestsi orang yang sukses itu sudah tertanam, maka anak-anak itu akan termotivasi dan bersungguh-sungguh dalam belajarnya, tidak akan asal-asalan.
Selanjutnya pembahasan mengenai keintiman hubungan atau disebut juga penetrasi sosial. Hal ini bias dikatakan bahwa terjadi prilaku antar pribadi yang diikuti oleh perasaan sunjektif. Penetrasi inih mencakup sejumlah kehidupan pribadi dan kepribadian derta bersifat intim.
Keintiman hubungan jugadapat berkembang dengan pendidikan,. Misalnya, dalam proses belajar bersama, apabila tanpa disertai dengan keintiman hubungan perahabatan diantara mereka akan sulit menciptkan proses belajar yang kondusif. Hal itu membuktikan bahwa keintiman hubungan sangat berkaitan dengan pendidikan.
Prilaku agresif akan muncul pada seseorang bergntung pada watak seseorang dan situasi yang dihadapinya. Walaupun watak susah diubah, namun melalui pendidikan secara kontinu, agresif itu dapat diminimalisir.
Cara untuk mengurangi agreif antara lain: 1) dengan katalis, yaitu penyaluran ketegangan psikis kearah aktivitas-aktivitas yang bersifat baik, seperti: membuat boneka, ikut pertadingan, olah aga, dan sebagainy, dan 2) dengan belajar secara perlahan-lahan menyadarkan diri bahwa sikaf agresif itu tidak baik dan bias merusak serta mengganggu orang lain.
Selanjutnya akan membahas kasih saying (altruismr). Prilaku ini memberikan pertolongankepada orang lain tanpa mengharapkan balasan. Kasih saying seperti lebih bersifat instingdaripada hasil belajar, baik dari jenis binatang maupun manusia.
C. Dampak Landasan Psikologi terhadap Pendidikan
Dampak pada konsep pendidikan adalah sebagai berikut: Pertama, psikologi perkembangan yang bersifat umum yang berorientasi pada afeksi dan pada kognisi, semuanya memberi petunjuk kepada pendidik bagaimana seharusnya ia menyampaikan dan mengorganisasikan materi pendidikan serta bagaimana membina anak-anak agar mereka mau belajardengan sedirinya atau sukarela. Kedua, Psikologi belajar. Belajar efektif dan efisien sangat tergantung atau dipengaruhi oleh iklim belajar dan mencakup keadaan fisik, sosial, mental siswa, minat, sikap, dan nilai-nilai sifat-sifat, kepribadiannya, kecakapan-kecakapannya, dan sebagainya. Ketiga, Psikologi sosial. Persepsi diri atau konsep tentang diri sendiri ternyata bersumber dari prlaku yang over dan persepsi kita terhadap lingkungan dan banyak dipengaruhi oleh sikap biasa secara alami di kondisi dan meniru sikap para tokoh.
DAFTAR PUSTAKA
Uus Ruswandi, Dkk
2008: Landasan Pendidikan. Bandung: Insan Mandiri
M. Sobry Surikno.
2008. Landasan Pendidikan. Bandung: Prospect Bandung
Muhibbin Syah.
2000. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru.
Bandung: PT. Rosdakarya Bandung
Anda adalah apa yang anda pikirkan
Labels
- Arsip Bonbin (1)
- JAWABAN UAS (1)
- Makalah (1)
- trik and tips (1)
- UAS Jawaban (1)
- Wajib di baca (1)
Search This Blog
Blog Archive
Pengunjung ke...
Categories
- Arsip Bonbin (1)
- JAWABAN UAS (1)
- Makalah (1)
- trik and tips (1)
- UAS Jawaban (1)
- Wajib di baca (1)
Belajar Bisnis
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment